Mengenal Hak-Hak Anak

Dunia anak-anak merupakan dunia yang penuh keceriaan. Tempat dimana anak-anak mulai belajar mengenal apa saja di sekelilingnya. Setiap apa yang diajarkan kepadanya selalu mereka anggap sebagai sesuaatu yang menyenangkan. Pada masa anak-anak, seseorang memiliki kesempatan yang luas untuk mengenal dirinya dan lingkungan sekitarnya. Sebab pada dasarnya setiap orang memiliki hak-hak untuk berkembang, tidak terkecuali anak-anak.

Kebebasan untuk mengembangkan diri merupakan hak dasar yang dimiliki setiap anak. Hak-hak anak telah menjadi perhatian utama setiap negara dan telah diakui oleh Lembaga Internasional PBB melalui badan khusus yang diberinama UNICEF (United Nation Children's Fund). Badan PBB ini memiliki misi kemanusian untuk menjamin kelangsungan hidup anak dan perkembangannya. Di Indonesia telah dibentuk Komisi Nasional Perlindungan Anak (KOMNASPA) yang bertugas untuk memonitor pemenuhan hak-hak anak.
Terpenuhinya hak-hak anak bukanlah tugas pemerintah sendiri. Orangtua, pemerhati anak, masyarakat, dan anak-anak sendiri merupakan mitra untuk mewujudkan hak-hak anak. Untuk mewujudkan terpenuhinya hak-hak anak harus dimulai dari diri sendiri. Pengetahuan akan hak-hak anak tentu bisa menjadi referensi yang bermanfaat bagi generasi muda yang peduli terhadap masa depan anak-anak, apa saja hak-hak anak itu? Berikut ini adalah beberapa hak-hak anak menurut Konvensi PBB

  • Hak Atas Kelangsungan Hidup
Anak-anak memiliki hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Terutama dalam penuhaan gizi yang baik, tempat tinggal, dan perawatan bagi kesehatan.
  • Hak untuk Berkembang
Anak-anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan, informasi, waktu luang, berekreasi, berkesenian dan mengenal budaya, termasuk perlakukan khusus untuk anak-anak yang mengalami keterbatasan fisik maupun mental.
  • Hak Partisipasi
Anak-anak memiliki hak untuk bebas dalam menyatakan pendapat, berkumpul, dan ikut serta dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya.
  • Hak Perlindungan
Anak-anak memiliki hak untuk mendapat perlindungan dari segala bentuk eksploitasi, perlakuan kurang manusiawi dalam proses peradilan pidana maupun dalam hal lainnya. (choi)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Filmnya boring, buat paper bag yukz..

Kampung Ceria/24 April 2011 - Sedikit Sumber Daya Manusia bukanlah halangan bagi Komunitas Ceria untuk mengisi kegiatan mingguan di Kampung Ceria, Jetisan. Malah, hal tersebut menunujukkan bukti komitmen kuat mereka untuk terus memberikan kepedulian dan perhatian bagi adik-adik di sana. Agenda untuk mengisi kegiatan di Kampung Ceria sebenarnya sudah direncanakan satu minggu sebelumnya yaitu membuat kerajinan dari bahan baku koran bekas. Kami sengaja mengajak adik-adik untuk membuat kerajinan dari koran bekas untuk mengenalkan mereka tentang bagaimana memanfaatkan barang bekas supaya merka peduli terhadap lingkungan.
Wawasan mengenai lingkungan perlu ditanamkan sejak dini agar jika sudah dewasa mereka sanggup untuk memelihara lingkungan terlebih-lebih bisa memanfaatkan lingkungan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, misalnya membuat barang-barang bernilai ekonomis dari barang bekas. Namun demikian, kegiatan tersebut diurungkan karena pengajar tidak bisa hadir, padahal diantara kami tidak satupun yang memiliki keahliah membuat barang kerajinan dari bahan baku barang bekas. Akhirnya kami harus menggantinya dengan kegiatan lain lalu kami memutuskan untuk mengadakan kegiatan rekreatif yaitu menyaksikan film. Jadi, hal tersebut kami pilih pertama karena alasan terbatasnya pemandu yang bisa ikut, kedua karena selama ini kegiatan menonton film belum pernah dilakukan.
Kami berangkat ke sana kira-kira pukul 09.00 selama kurang lebih setengah jam akhirnya kami sampai. Seperti biasa, adik-adik sudah berkumpul di Rumah Ceria, tepatnya rumah Mas Doni. Di Rumah Ceria ternyata mereka sudah asyik dengan kegiatan mewarnai, namun perhatian mereka menjadi buyar ketika kami datang. Ternyata mereka lebih tertarik dengan kegiatan yang kami siapkan. Namun, mereka belum tahu kegiatan apa yang akan kami berikan. Oh iya, sebelumnya kami memberikan surprize kepada adik-adik dalam bentuk buletin yang berisi kumpulan hasil karya yang mereka buat sendiri. Pada kesempatan itu, kami menawarkan adik-adik untuk mengekspresikan hasil karya mereka, namun nampaknya mereka masih malu-malu kucing. Oke lanjut, setelah cukup lama membrainstorming mereka tentang peringatan hari kartini, maka peralatan menyaksikan film pun kami siapkan. Kegiatan yang kami siapkan adalah menyaksikan film. Fim yang kami putar sebenarnya tidak begitu terkenal, namun adanya film anak-anak cuma satu saja, apa dikata. Kami berharap setelah nonton film yang kami suguhkan mereka bisa mengambil nilai-nilai positif dari film tersbut. Tenyata eh ternyata belum sampai kelar filmya, adik-adik tersbut mulai gaduh, entah karena menjahili temannya atau mencari mainan lain. Satu jam kemudian mereka memilih untuk meninggalkan tempat menonton film dan nampaknya mereka risau mencari-cari sesuatu. Kami berpikir apakah filmnya tidak cocok dengan preferensi mereka, padahal film tersebut bergenre animasi atau mungkin selera mereka bergeser ke film yang serba membara (hot), bisa jadi. Eh tidak tahunya salah satu diantara mereka ada yang sudah menonton film tersebut dan mengobral ceritanya, jadi ya bisa ditebak, tentu saja boring. Di saat kondisi mulai kurang kondisif kami harus memutar otak untuk menawarkan kegiatan yang mungkin tidak membuat mereka bertambah boring, ya untungnya kami tadi membawa salah seorang pejuang lain yang mau kami ajak untuk terlibat dalam kegiatan ceria. Dia sanggup membuat paper bag kecil dari kertas origami, walaupun cukup simpel ternyata adik-adik mau mengikutinya dengan penuh perhatian. Kegiatan tersebut lalu berkembang menjadi daya tarik bagi adik-adik yang lain.
Dari pengalaman tersebut kita bisa mengambil hikmah, jadi memang tidaklah gampang untuk memberikan kegiatan yang tidak diminati oleh anak-anak. Kegiatan yang bisa menarik dan sesuai menurut kita tidak berbanding lurus dengan apa yang ingin anak-anak kerjakan. Paper bag dari origami merupakan salah satu contohnya. Mungkin ada banyak hal kegiatan yang diajarkan oleh orang tua kepada anaknya, namun tidak semua apa yang diberikan itu bisa diterima oleh anak. Bakat setiap anak bervariasi satu dengan yang lain. Dengan mengetahui bakat dari anak, kita menjadi lebih mudah untuk membantu anak dalam menemukan dunianya.(choi)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

mantab

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS